Kalau kutahu ada rakit
Kan kupancing ikan nila
Kalau kutahu cinta itu sakit
Takkan kumulai dari semula
Anak kucing di keranjang kayu
Baru beranak sudah menyusu
Meski kamu tak lagi milikku
Di hatiku tetap terukir namamu
Buat apa ke pasar
Kalau hanya beli peniti
Buat apa punya pacar
Kalau hanya menyakiti hati
Bagaimana membelah nanas
Ambil pisau dibelah dua
Bagai mana hati tak panas
Melihat kamu jalan berdua
Gerimis hujan gerimis
Gerimis di tengah hari
Menangis jangan menangis
Dia pergi takkan kembali
Kan kupancing ikan nila
Kalau kutahu cinta itu sakit
Takkan kumulai dari semula
Anak kucing di keranjang kayu
Baru beranak sudah menyusu
Meski kamu tak lagi milikku
Di hatiku tetap terukir namamu
Buat apa ke pasar
Kalau hanya beli peniti
Buat apa punya pacar
Kalau hanya menyakiti hati
Bagaimana membelah nanas
Ambil pisau dibelah dua
Bagai mana hati tak panas
Melihat kamu jalan berdua
Gerimis hujan gerimis
Gerimis di tengah hari
Menangis jangan menangis
Dia pergi takkan kembali
|
Bisa punah hewan kera
Kalau tiap hari slalu diburu Aku korbanin ini semua Karena aku mencintaimu Ada anak sedang bermain Berlari-lari melompat pagar Bila kau menanti yang lain Mungkinkah hatiku akan tegar Ada lauk dalam piring Pilih daging tanpa kepala Hancur hatiku berkeping-keping Melihat kau mesra dengannya |
isau raut hilang di rimba![]() Pakaian anak raja di Juddah Karam di laut boleh ditimba Karam di hati bilakah sudah? Buah berangan masaknya merah Kelekati dalam perahu Luka di tangan nampak berdarah Luka di hati siapa tahu? Banyaklah orang menanam pulut Saya seorang menanam padi Banyaklah orang karam di laut Saya seorang karam di hati Anak punai anak merbah Hinggap ditonggak mencari sarang Anak sungai lagikan berubah Inikan pula hati orang Apa diharap padi seberang Entahkan jadi entahkan tidak Apa diharap kasihnya orang Entahkan jadi entahkan tidak Entahkan jadi entahkan tidak Entah dimakan pipit melayang Entahkan jadi entahkan tidak Entah sudahkan milik orang Cahaya bulan diliput awan Dipuput bayu awan berlalu Hasrat hatiku padamu tuan Malang diriku tuan tak tahu Dari Arab turun ke Aceh Naik ke Jawa berkebun serai Apa diharap pada yang kasih Badan dan nyawa lagi bercerai Selasih di Teluk Dalam Datang kapas Lubuk Tempurung Saya umpama si burung balam Mata terlepas badan terkurung Chau Pandan, anak Bubunnya Hendak menyerang kota Melaka Ada cincin berisi bunga Bunga berladung si air mata Anak buaya terenang-renang Anak kunci dalam perahu Hanya saya terkenang-kenang Orang benci saya tak tahu Masuk hutan berburu musang Musang mati dijerat orang Macam mana hati tak bimbang Ayam di sangkar disambar helang Sakit menebang kayu berlubang Kayu hidup dimakan api Sakit menumpang kasih orang Daripada hidup baiklah mati Asal kapas menjadi benang Dari benang dibuat kain Barang lepas usah dikenang Sudah menjadi hak yang lain Apa guna pasang pelita Jika tidak dengan sumbunya Apa guna bermain mata Kalau tidak dengan sungguhnya Biji saga nampaklah merah Bawa segenggam pergi ke kota Hati kecewa amatlah parah Tidur bertilam si air mata Dari Jawa ke Bengkahulu Membeli keris di Inderagiri Kawan ketawa ramai selalu Kawan menangis seorang diri Kusangka nanas di tengah padang Rupanya pandan yang berduri Kusangka panas hingga ke petang Rupanya hujan di tengah hari Akar nibung meresap-resap Akar mati dalam perahu Terbakar kampung nampak berasap Terbakar hati siapa yang tahu Orang Aceh sedang sembahyang Hari Jumaat tengah hari Pergilah kasih pergilah sayang Pandai-pandailah menjaga diri Seri Mersing lagulah lama Lagu dikarang biduan dahulu Hatiku runsing gundah gulana Dimana tempat hendak mengadu? Sri Mersing lagulah melayu Dikaranglah oleh biduan dahulu Hatiku runsing bertambah pilu Mengenangkan nasib yatim piatu Apa diharap kepada tudung Tudung saji terendak Bentan Apa diharap kepada untung Untung nasib permintaan badan Penatlah saya menanam padi Nenas juga ditanam orang Penatlah saya menanam budi Emas juga dipandang orang Sirih kuning di batang pauh Sayang beluluk beruang-ruang Putih kuning carilah jodoh Saya buruk biar terbuang Padi jangan dicampur antah Melukut tinggal sekam melayang Hatiku jangan diberi patah Meskipun saya dagang terbuang Kayu cendana di atas batu Sudah diikat dibawa pulang Adat di dunia memang begitu Benda buruk tidak dipandang Payang retak tali bersimpul Kendi lokan airnya tumpah Hidup tidak kerana kaul Mati bukan kerana sumpah Anak ayam turun satu Mati seekor habis hilang Tiada untung modal tak tentu Perahu tersadai di atas galang Pukul gendang tiup nafiri Anak Keling mandi minyak Saya umpama rumput di bumi Rendah sekali pada yang banyak Orang Jawa pulang ke Jawa Membawa pulang tiang bersambung Badan terletak putuslah nyawa Nyawa tidak dapat dihubung Sarawak sungainya sempit Buah nenas lambung-lambungan Hendak kubawa perahunya sempit Tinggal emas tinggal junjungan Pecah belah batu di gunung Seri dewa berjalan malam Ya Allah, tidak tertanggung Rasa tidak dikandung alam Tidak salah bunga lembayung Salahnya pandan menderita Tidak salah ibu mengandung Salahnya badan buruk pinta Kalau begini tarah papan Ke barat juga kan condongnya Kalau begini untung badan Melarat juga kesudahannya Hujan turun badan pun basah Patah galah haluan perahu Niat dihati tak mahu berpisah Kehendak Allah siapa yang tahu? Nyiur muda luruh setandan Diambil sebiji lalu dibelah Sudah nasib permintaan badan Kita dibawah kehendak Allah Tuan puteri tersadung batu Ambil ubat di atas para Alangkah sedih cinta tak restu Jiwa merana hati sengsara |
